07/03/13

Kata Untuku

Narasi ini kubuat tanpa maksud apa-apa kecuali keinginan membuncah rasa ini untuk berbagi bersama penduduk bumi yang insyaAllah terhormat. 

"Hidup adalah SENI Menikmati Setiap Peristiwa Dalam Kehidupan Anda. Semoga Bermanfaat Dari Setiap Pengalaman Anda Dede Hermawan
Aku pernah meminta-minta pada Allah. Sudah barang tentu tak ada harga diriku ketika itu. Semua tangis membuncah disusul senyum bahagiaku karena merasa sangat dekat dengannya. Kemudian kutegakkan tulang belakang searah gaya gravitasi bumi yang melarangku untuk terus melihat dunia tanpa istirahat. Kulihat sekelilingku penuh sesak orang-orang yang sedang berkegiatan sama denganku. Sama.
Orang-orang itu sedang menegadahkan tangannya sejajar horizontal dengan dada mereka. Mulutnya bergerak atas bawah membentuk artikulasi yang aku tidak dapat menerjemahkannya dalam kata. Itu bukan urusanku kurasa. Mataku terfokuskan pada seseorang yang memakai kopiah haji berwarna emas diselingi lurik khas timur tengah berwarna hitam. Aku sekali lagi masih terbangun untuk menatap sekitarku.
Seorang berpakaian indah, memakai gamis yang menutupinya dari dada hingga betis. Kemudian ia sambung sandangnya memakai celana panjang berwarna sama dengan atasannya. Ia lilitkan selembar kain berbentuk persegi panjang di lehernya. Kalau tidak salah, namanya ‘syal’. Ia duduk paling depan, bersila, menunduk dengan mata terpejam. Butir air keluar dari matanya yang tertutup sambil hidungnya menarik paksa cairan yang terus mendesak keluar. Memimpin artikulasi yang membahana di seantero masjid malam itu.
Aku kemudian menunduk lagi karena merasa aman berada di situ. Kulanjutkan menangis episode dua ku dengan semakin deras. Aku serasa tak punya bobot. Aku hanya menjemput memori yang kusesali mengapa itu menjadi memori. Saat kubuka mata perlahan, hanya terlihat sesuatu berwarna merah yang terhalang kaca air mataku.
Belum saatnya kupikir.
Jiwaku berteriak-teriak pada nadi. Napasku terengah-engah menahan cairan lemas dari hidungku. Air mataku membasahi seluruh telapak tangan. Leherku berkeringat. Badanku menggigil. Telapak kakiku bagai tak dapat kurasa karena kupikir ia telah berubah menjadi batu karang. Aku terdiam untuk beberapa saat. Lega sekali aku bisa menangis di hadapan-Mu.
Otak dan ruh ku bekerja pada malam itu. Kurasa.
Aku tak ingin isak tangis ini membahana dan sampai di seluruh telinga jamaah. Keinginanku kemudian tidak terkabul. Orang-orang menatapku tajam dengan raut wajah merasa terganggu dengan kehadiranku. Kuhentikan sejenak sambil istighfar menatap bayang-bayang dalam benak.
Inikah aku; yang kadang terjerat luka; ingin kutitipkan rasa pada waktu bukan padamu, wahai jasad tertitip padaku.
Aku menggulung diriku. Menghapus memori penyesalan dengan mengecilkan volume—semuanya. Apakah aku sampai bisa mengganggu mereka.
Aku hanya ingin mengeluh pada Tuhan. Karena padaNya aku menangis, bukan untuk siapa-siapa. Aku ingin mereka jangan terlalu merasa tangis ini untuknya. Mereka kegeeran. Hihi, aku tertawa sebentar. Dan lenyap seluruh air mata dan lekuk bibir yang menuju pusat bumi.
Aku seorang perasa yang egois. Tiba-tiba seluruh badanku kaku mengeras seperti batu. Kurasa yang dapat bergerak hanya aliran darah dalam setiap pembuluh dalam tubuhku. Oiya! ditambah bola mataku yang masih dapat melirik kanan-kiri. Dan tak ada yang menyadari keadaanku. Aku takut setengah mati. Juga setengah hidup. Mulutku tak dapat berucap kata. Jantungku berdegup secukupnya. Tidak terlalu cepat atau kurang. Berarti normal-normal saja kan keadaanku?
Tidak kurasa.
Aku tak dapat menggerakkan apa pun! Aku tak bawa teman, kerabat, atau siapa pun. Bahkan kubuat orang sekelilingku kesal terhadapku. Bahkan air mataku yang harusnya bisa keluar tak mau terjun dari kelenjarnya. Aku ingin menangis, tapi tak ada air mata. Aku semakin sedih dan ketakutan. Tapi tak ada yang dapat melihat ekspresiku. Tubuhku kaku di atas sajadah Ibu. Ketakutan ini menjalar hingga ubun-ubun.
Aku bersedih. Tak ada yang dapat melihat ketakutanku. Aku layaknya orang normal di mata orang. Duduk tegap bersila, mata lurus ke depan, tangan terhampar di atas lutut, memakai kaus warna putih dan sweater warna hijau. Bercelana panjang hingga mata kaki karena dari situ ke bawah aku pakai kaus kaki.
Tapi di dalamnya ada rapuh yang menggerogoti batin. Aku bahkan tak ingat siapa pun saat itu. Aku hanya takut mati dan tak ada yang menyadari. Aku sendiri.
Suara di sekelilingku semakin menusuk gendang telingaku hingga ledakan keras hinggap di otakku. Kulafazkan Astaghfirullaahaladziim. Dan semua berakhir dalam senyum yang tercurah hanya untukku.
Ayah, Ibu dan Kakakku ada di sampingku. Ditambah seorang berjas putih memakai seperti headset di telinganya. Oh, stetoskop.
Aku lupa pada Allah padahal selang sedetik aku mengeluh padaNya. Aku ini apa. Hingga lupa pada Zat Abadi. Aku menangis. Kali ini ditambah air mata yang menjadi-jadi dan rasa yang bercampur aduk. Membanjiri baju pasienku sampai petang menjelang dan hari berakhir sendu.

Batman Begins - Help Select